Bukan Milikmu (Bagian 2. Seharusnya Kau Tak Jatuh Cinta)

  


"Hehe, kenapa, Ma?" Tanyaku.

"Kamu ada-ada aja, Fa," kata mamaku sambil menggelengkan kepalanya.

"Yee, Mama. Farisha serius kali, Ma," kataku dengan wajah serius.

"Anak orang kok mau disiksa," kata mamaku.

"Yah, Mama. Pasti Mama nggak paham deh apa maksudku," kataku dengan wajah cemberut dibalik cadarku.

"Emang mau kamu apain tuh si Akbar? Disiksa secara seksual itu kayak gimana?" tanya mamaku polos.

"Duh, gimana ya. Susah juga mau ngejelasinnya," kataku sambil nyengir.

"Ya kan kamu yang punya ide, Fa. Masak nggak bisa ngejelasinnya," kata mamaku.

"Emm... Rencananya aku pengen pura-pura diperkosa sama temen-temen cowokku, Ma. Ya pengen tau aja, apakah si Akbar kena mental apa enggak. Kalo dia kena mental, kemungkinan besarnya dia bakal disfungsi seksual," kataku yakin.

"Farisha, Farisha. Sebegitu bencinya kah kamu sama calon suami kamu?" tanya mamaku.

"Mama kok jadi nggak ngedukung Farisha sih? Mama cepet banget berubah pikiran," kataku kecewa.

"Bukan begitu, Fa. Mama siap menebus kesalahan Mama, karena udah mendukung perjodohanmu sama Akbar. Tapi apakah Mama juga harus mendukung rencana gilamu? Itu anak orang, Fa. Dan nanti bakal jadi menantu Mama juga," kata mamaku.

Mendengar kata-kata Mama, aku kesal. Bagaimana tidak, Mama cepat banget berubah pikiran. Aku kira, Mama bicara panjang lebar menyesali kesalahannya karena menjadikanku alat untuk membayar hutang budi membuat Mama menyetujui semua usulku.

"Ya udah, kalo Mama nggak setuju sama rencanaku. Yang jelas, aku bakal kerjain tuh si Akbar. Mama nggak bisa menghalangi aku," kataku penuh kesal.

Kulihat Mama mengembuskan nafas panjang, "Mama bingung, Fa harus bagaimana. Mama nggak mau, anak Mama jadi jahat. Nggak pernah Mama mendidikmu kayak gitu," kata mamaku yang mulai menghakimiku.

Entah kenapa, aku semakin kesal saja dengan mamaku. Yang kukira memahamiku, kenyataannya tetap seperti emak-emak setengah baya ala gen X.

"Dan lagi, kamu mau pura-pura diperkosa? Mama nggak ngerti deh, sama jalan pikiranmu," kata mamaku.

"Iya, aku bakal pura-pura diperkosa. Aku mau, Akbar ejakulasi dini karena terkena syndrom voyeurisme traumatis. Dengan begitu, Akbar gagal menjadi suamiku karena nggak bisa memenuhi kebutuhan biologisku," kataku dengan yakin.

"Jadi itu tujuanmu? Kamu dendam karena perjodohan ini?" tanya mamaku.

"Ya, itu baru sebagian kecil alasanku, Ma," kataku dengan nada sinis.

"Huh, Mama nggak tau lagi deh harus berbuat apa. Harapan Mama yang kamu ungkapin barusan cuma sekedar angan-angan sesaat," kata mamaku.

"Aku serius, Ma. Farisha nggak bercanda," kataku dengan mendengus kesal.

"Ya udah deh, terserah kamu aja, Fa. Mama ke dapur dulu," kata mamaku sambil meniggalkanku pergi.

Setelah Mama meninggalkanku, aku hanya bisa menggerutu. Dan merasa kesal karena Mama menganggap usulku sebagai lelucon. Karena aku begitu kesal, kuputuskan untuk pergi ke kamarku. Dengan kesal, kubanting pintu kamarku.

Braaakkk....

Sekarang aku empaskan tubuhku di atas ranjangku dalam posisi telungkup. Tanpa melepas hijab dan cadarku, kubenamkan wajahku di atas bantal putihku. Entah kenapa rasanya aku ingin menangis, karena Mama yang adalah orang tuaku sendiri tega seperti itu padaku. Aku benar-benar tak terima, Mama berbalik arah peduli dengan calon menantunya itu daripada aku. Ya seandainya semua yang aku ucapkan sekedar ucapanku yang melantur, setidaknya Mama mau mengerti apa yang aku rasakan.

Mama sama sekali tidak mengerti apa yang aku rasakan. Mengetahui bahwa aku dijadikan alat untuk balas budi saja, aku kecewa berat. Apalagi Mama sama sekali tak mau mengerti, jika aku benar-benar tidak suka dengan Akbar.

Sejak Mama mengatakan Akbar adalah Gus, yang pernah berkuliah di Al Azhar. Aku sudah merasa illfeel, karena aku tak mau merasa disaingi. Dan aku juga tidak mau, jika aku pada akhirnya hanya dijadikan istri yang submissive. Itu sama sekali bukan karakterku, yang dipaksa harus tunduk pada seorang laki-laki patriarkis yang menganggap rendah istrinya sendiri.

Aku juga benci sama Papa, semua ini karena kesalahan Papa. Padahal aku anak perempuan semata wayangnya, yang seharusnya Papa tak tega menjadikanku alat untuk membayar utang budi. Benar-benar tak adil, aku benar-benar tak terima dengan keputusan Papa yang egois yang sibuk mementingkan dirinya sendiri.

Ting.. Ting..

Karena aku yang dari tadi melamun saja, aku tak sadar jika hpku berdering. Kulihat Aldo sedang mengirim chat padaku. Melihat Aldo mengirim chat, aku tersenyum.

"Hai, Fa. Ada waktu nggak hari ini?" tulis Aldo dalam chat.

"Ada sih, Do. Tapi hari ini aku badmood banget," tulisku dalam chat.

"Waduh, badmood kenapa nih? Bukan karena aku chat kan?" tulis Aldo lewat chat.

"Bukan sih, Do," tulisku membalas chat Aldo.

"Karena apa dong? Cerita aja lah!" tulis Aldo membalas chatku.

"Males! Mengingatnya aja bikin aku stress," tulisku membalas chat Aldo.

"Yahh, jangan dibikin stress dong! Kalo ada masalah ungkapin aja ke kita-kita!" tulis Aldo membalas chatku.

"Nggak bisa, Do. Kamu kan tau sendiri, sejak dulu aku tuh kayak gimana orangnya," tulisku membalas chat Aldo.

"Iya aku paham. Kamu sejak dulu baperan, gampang bad mood. Melankolis banget lah," tulis Aldo membalas chatku.

"Nah, itu masih apal," tulisku membalas chat Aldo.

"Mau aku hibur? hehe," tulis Aldo membalas chatku.

"Nggak mau! Pasti mau mesum kan?" tulisku membalas chat Aldo.

"Ya ilah, Fa. Negatif thinking mulu, kamu kira aku laki-laki bejad yang di otaknya mesum mulu, haha," tulis Aldo membalas chatku.

"Lah, kan biasanya gitu," tulisku membalas chat Aldo dengan emoticon melet.

"Beda lah sekarang, dulu mah yang namanya remaja masih menggebu-gebu kan?" tulis Aldo membalas chatku.

"Oh player bisa berubah juga ya ternyata? Hihi," tulisku membalas chat Aldo.

"Iya lah, lagian hidup bukan sekedar sex kan? Apalagi kalo kerjaan lagi numpuk, nggak sempet buat mikirin begituan," tulis Aldo membalas chatku.

"Kamu sekarang workaholic ya? Padahal dulu kayak santai aja gitu, nggak peduli sama masa depan, hehe," tulisku membalas chat Aldo.

"Waktu yang bikin aku berubah, Fa. Lagian terus-terusan hedon, bikin hidupku cemas," tulis Aldo membalas chatku.

"Kok bisa, Do? Bukannya hedon justru menyenangkan ya?" tulisku membalas chat Aldo.

"Bisa dong. Terlalu hedon justru bikin perasaan resah karena hedon itu candu sih, Fa," tulis Aldo membalas chatku.

"Resah, cemas? Aku masih belum nemuin pointnya, Do," tulisku membalas chat Aldo.

"Ya karena candu, Fa. Candu yang bikin aku kehilangan arah. Saat aku nggak bisa memenuhi obyek hedonku, Fa," tulis Aldo membalas chatku.

"Oh berarti hampa ya?" tulisku membalas chat Aldo.

"Ya bisa dibilang kayak gitu. Aku cuma kesepian aja sih, Fa," tulis Aldo.

"Cari pasangan dong, Do! Bukannya pacar kamu bejibun ya, Do? hehe," tulisku membalas chat Aldo.

"Pacar sih banyak, Fa. Tapi nggak ada satu pun, yang nyangkut di hati," tulis Aldo membalas chatku.

"Lalu?" tulisku membalas chat Aldo.

"Sejak kamu kembali hubungin kita-kita, aku ngerasa masa depanku mulai cerah, Fa," tulis Aldo membalas chatku.

"Maksudnya?" tulisku membalas chat Aldo.

"Yahh, masak nggak paham sih, Fa?" tulis Aldo membalas chatku.

"Aku nggak paham, Do. Beneran deh," tulisku membalas chat Aldo.

 

"Eh kita chat ke grup chat aja yuk!" tulis Aldo membalas chatku.

"Hmm... Kamu kenapa sih, Do? Kamu belum jawab lho, maksud kamu tadi apaan," tulisku membalas chat Aldo, merasa tak mengerti.

"Udah, lupain aja! Nggak penting juga," tulis Aldo membalas chatku.

"Ya udah deh. Jadi pindah ke grup chat?" tulisku membalas chat Aldo.

"Jadi dong... Ayok!" tulis Aldo membalas chatku.

Sekarang aku sudah berpindah chat di grup chat. Di grup chat hanya ada aku, Aldo, Doni, Aris dan Riswan.

"Tumben sepi grupnya?" tulis Aldo lewat chat.

"Woi, hadir..." tulis Doni lewat chat.

"Hai, Don..." tulisku lewat chat, menyapa Doni.

"Wah seru nih, ada Farisha, hehe," tulis Doni lewat chat.

"Seneng banget sih, Don? Kayak ketemu siapa aja, hehe," tulisku membalas chat Doni.

"Ya pasti senenglah..." tulis Doni lewat chat.

"Hehe, biasa aja kali..." tulisku membalas chat Doni lewat chat.

"VN dong, Fa! Udah lama nggak denger suara kamu..." tulis Doni lewat chat.

"Nggak mau, ah. Chat aja ya? hehe," tulisku membalas chat Doni.

"Yahh, gitu amat, Fa..." tulis Doni lewat chat.

"Udah, Do! Jangan dipaksain!" tulis Aldo lewat chat.

"Ya udah deh, nggak apa-apa. Bisa balik kayak dulu aja, aku udah seneng," tulis Doni lewat chat.

"Hai, Fa..." tulis Aris menyapa lewat chat.

"Hai juga, Ris..." tulisku membalas chat Aris.

"Ngomong-ngomong, Riswan kemana nih? Nggak nongol di grup?" tulis Aris lewat chat.

"Ngapain lu cari gua? Kangen?" tulis Riswan lewat chat.

"Najis, huek. Emang gua gay? haha," tulis Aris lewat chat.

"Lu kangen, nggak, Fa?" tulis Riswan lewat chat.

"Emm, biasa aja tuh, hehe," tulisku membalas chat Riswan dengan emoticon melet.

"Yahh, kecewa dong gua," tulis Riswan lewat chat.

"Hihi, enggak-enggak. Pasti kangen dong, Wan. Sini peluk!" tulisku lewat chat.

"Peluk virtual ya? Hehe," tulis Riswan.

"Gua juga mau dong, Fa," tulis Aris.

"Hihi iri, semua boleh peluk kok," tulisku lewat chat.

"Ya ilah, kalian make peluk-peluk pacar gua," tulis Aldo.

"Hehe, aku kan pacar kalian..." tulisku lewat chat.

Tiba-tiba Aldo offline, terbersit di dalam pikiranku. Jangan-jangan Aldo beneran suka sama aku? Tapi kan? Aku nggak mau memakai perasaan?

"Aldo kenapa sih?" tulisku lewat chat.

"Masak lu nggak ngerasa sih, Fa?" tulis Doni lewat chat.

"Astaga, ini cewek bener-bener nggak peka ya..." tulis Doni lewat chat.

"Apa sih, Don? Jawab dong!" tulisku lewat chat.

"Aldo itu suka sama lu, Fa. Masak lu nggak ngerasa sih?" tulis Doni lewat chat.

Aku sama sekali tidak kaget sih, mengetahui kenyataan bahwa Aldo memendam perasaan untukku. Hanya saja, aku pura-pura saja. Karena aku tidak mau mengecewakan Aldo juga. Toh, percuma saja jika Aldo suka padaku, karena aku sebentar lagi menikah. Menerima ungkapan perasaan Aldo padaku hanya akan membuat Aldo semakin kecewa. Namun, dalam lubuk hatiku merasa senang mengetahui Aldo menyukaiku. Aku pikir, kedekatanku pada mereka dulu sebatas have fun saja. Jadi tidak pernah terpikirkan sama sekali jika salah satu dari mereka akan mengungkapkan perasaannya padaku.

"Sebentar, biar gua telfon dulu! Masak laki ngambekan kayak gitu," tulis Riswan lewat chat.

Setelah beberapa menit, Aldo kembali online. Aku yang tau Aldo kembali online merasa senang.

"Maaf tadi beli rokok di warung," tulis Aldo lewat chat.

Mengetahui alasan Aldo, aku jadi ingin tertawa saja. Padahal sudah ketauan jika Aldo sedang ngambek, karena merasa aku tolak.

"Kamu kesel sama aku ya, Do?" tulisku lewat chat.

"Enggak, kata siapa?" tulis Aldo lewat chat.

"Masih keukeuh aja sih, Do menyangkal kalo kamu nggak kesel sama aku," kataku dalam hati.

"Jangan bo'ong, Do. Aku tau kok," tulisku lewat chat.

"Beneran, Fa. Aku nggak kesel sama kamu," tulis Aldo lewat chat.

Karena aku merasa tak enak hati, telah membuat Aldo menanggung perasaan kesal. Kucoba kirim VN lewat grup chat, "Do, kamu cemburu ya?" kataku lewat VN.

"Akhirnya, gua denger suara lu lagi, Fa," tulis Doni lewat chat.

"Iya nih, gua udah nunggu sejak tadi buat denger suara lu, Fa," tulis Aris lewat chat.

"Heh, kalian...Ntar ada yang cemburu lagi lho," tulis Riswan lewat chat.

"Lu nyindir gua, Wan?" tulis Aldo lewat chat.

"Nah, kan...Malah marah sama gua kan orangnya," tulis Riswan lewat chat.

"Udah dong! Jangan berantem," kataku yang lagi-lagi lewat VN.

"Tuh nggak boleh berantem, sama Farisha! Hehe," tulis Aris lewat chat.

"Nggak kok, Fa. Nggak berantem," tulis Aldo.

"Iya, Do. Aku nggak mau kalian berantem. Kita kan udah kayak keluarga, ya meski aku pernah lostcontac sama kalian cukup lama. Tapi sekarang aku balik lagi kan?" kataku lewat VN.

Cukup lama, Aldo, Doni, Riswan dan Aris tidak merespon VNku lewat grup chat. "Hai, kalian kok pada diem?" tanyaku lewat VN.

"Hehe, maaf, Fa," tulis Aris lewat chat.

"Wah maaf, Fa. Tadi gua tinggal sebentar," tulis Riswan lewat chat.

"Hehe, otak gua ngelag sebentar denger suara lu," tulis Doni lewat chat.

"Kalian kenapa sih? Ngelag?" kataku masih lewat VN.

"Awas ya kalian macem-macem!" tulis Aldo lewat chat.

"Halah lu paling juga sama, Do," tulis Aris lewat chat.

"Kalian sebenarnya ngobrolin apa sih? Aku nggak paham," kataku masih lewat VN.

"Ya udah deh, gua ngaku. Gua coli make suara lu, Fa," tulis Doni.

"Heh, mulai mesum kamu, Don," kataku lewat VN.

"Yang lain pasti sama, Fa. Masak lu nggak apal, mereka kan juga mesum," tulis Doni lewat chat.

"Emang bener ya, kalian coli make suaraku?" tanyaku lewat VN.

"Hahaha, lu sih, Don buka kartu. Iya, Fa maaf ya!" tulis Aris lewat chat.

"Gua juga, hehe," tulis Riswan lewat chat.

"Maaf, Fa... Tapi..." tulis Aldo tak melanjutkan kata-katanya lewat chat.

"Tapi apa, Do?" tanyaku pada Aldo lewat VN.

"Aku cinta sama kamu, Fa...Aku nggak rela kamu jadi menikah sama orang lain," tulis Aldo lewat chat.

Entah kenapa, aku terdiam saat Aldo mengungkapkan perasaannya padaku. Aku nggak tau, apa yang harus aku ucapkan. Sebenarnya aku sama sekali nggak ada perasaan sedikit pun pada Aldo, begitu juga dengan yang lain. Karena aku dengan mereka sebatas teman, sebatas sahabat. Jika pun dulu kita pernah have sex bareng-bareng, bukan berarti memakai perasaan. Dan sampai detik ini pun, aku masih perawan. Bukan karena aku saat itu memandang sakral keperawananku, sama sekali tidak. Meski aku setiap kali mereka ingin mengambil keperawananku, aku menolak karena aku belum siap. Dan belum siap, bukan berarti aku menganggap keperawanan itu sakral. Itu dua hal yang berbeda.

"Maafin aku, Do. Bukan berarti aku menolak ungkapan perasaan kamu. Kamu dan yang lainnya, cuma aku anggap sebagai teman," kataku lewat VN.

"Iya, Fa. Aku mengerti. Maaf ya udah maksain perasaanku ke kamu," kata Aldo yang kini membalas VNku lewat VN pula.

"Terima kasih, Do udah mau ngertiin. Kamu jangan khawatir, aku nggak ada perasaan sedikit pun sama calon suamiku. Justru aku pengen bikin dia menderita," kataku lewat VN.

"Maksudmu?" tanya Aldo lewat VN.

"Rencananya, aku bakal ajak suamiku nanti honey moon. Dan kalian pura-pura dateng sebagai perampok. Trus kalian memperkosaku di depan suamiku nanti," kataku lewat VN.

"Wah, ide menarik, Fa," kata Aris lewat VN.

"Aku pengen si Akbar ejakulasi dini karena melihat aku diperkosa," kataku lewat VN.

"Wah parah ide lu, Fa," kata Riswan lewat VN.

"Kenapa? Kamu nggak mau, Wan?" tanyaku lewat VN.

"Ya nggak lah, pasti mau..." kata Riswan lewat VN.

"Bagus, kalo kamu, Do?" tanyaku lewat VN.

Aldo lama tidak merespon pertanyaanku, kutunggu sampai suasana menjadi hening. Namun, Aldo tak kunjung merespon pertanyaanku.

"Do, kamu nggak apa-apa?" tanyaku lewat VN.

"Aku nggak setuju sama rencana gila ini. Meski kamu nanti bakal menjadi istri orang lain," kata Aldo lewat VN.

"Nggak asik lu bro. Jadi apa mau lu?" tanya Doni lewat VN.

"Gua nggak rela, Farisha diperlakuin kayak dulu. Farisha bukan obyek seksual," kata Aldo lewat VN dengan nada kesal.

"Alasan aja lu, Do. Lu mau Farisha buat diri lu sendiri?" kata Doni lewat VN.

"Ya, itu jelas," kata Aldo lewat VN.

"Tapi Farisha bakal jadi istri orang, bro. Lu sadar napa! Nggak usah lah pake perasaan!" kata Aris lewat VN

"Payah lu, Do. Farisha mau lu embat sendiri gitu?" tanya Riswan lewat VN.

"Udah dong! Kok malah berantem? Kalian mau nggak sih bantuin aku?" tanyaku lewat VN.

Suasana tiba-tiba hening, Aldo pun kembali offline. Lalu disusul oleh Aris, Riswan dan Doni. Setelah grup chat hening, kuhembuskan nafas panjang. Ternyata merealisasikan ide gila itu tak semudah seperti di angan-angan saja. Karena di dalam rencanaku, bukan hanya aku sendiri yang terlibat. Namun, juga melibatkan orang lain yang tidak selalu sepaham denganku.

Melihat rencanaku yang lagi-lagi gagal, aku teringat apa kata mamaku. Memang tak mudah menyatukan banyak kepala yang memiliki pemahaman yang berbeda. Apalagi harus melibatkan perasaan seperti Aldo.

Aku sama sekali tak menyalahkan Aldo, karena tidak ada satu pun orang yang bisa melarang seseorang untuk jatuh cinta. Hanya saja, yang kuinginkan Aldo mengesampingkan perasaannya demi aku.

 

Bersambung.

Posting Komentar