Kesayangan Tante_Part 2 (Christin)





 

Jakarta memang menyenangkan di saat weekend, minim macet. Yang biasanya dari satu titik ke titik lainnya bisa menghabiskan 1 jam, di saat weekend bisa kutempuh hanya dengan 15 menit saja. Mungkin Jakarta memang sudah terlalu padat.

 

Aku memacu mobilku berkeliling Jakarta ke tempat-tempat favoritku. Ngegym di Senayan, menikmati kopi di daerah Kemang, makan siang di Cipete, hari ini aku memutuskan untuk me-time, memanjakan diri sebelum nanti malam aku “bekerja”.

 

Sesuai rencana, Bule Tati mempersiapkanku sebagai hadiah ulang tahun temannya malam ini. Jujur aku merasa sedikit deg-degan, aku belum pernah bertemu dengan Wanita teman arisan Bule Tati ini. Aku intens berolahraga beberapa hari belakangan untuk menaikkan staminaku bercinta di ranjang. Semoga Wanita itu puas, pikirku.

 

Sebelum berangkat bule berpesan kalo aku harus berpakaian rapih dan wangi, datang lebih awal dan memasang wajah seramah mungkin. Bule memberikanku kartu akses sebuah kamar hotel mewah di daerah SCBD. Aku benar-benar merasa seperti anak yang akan sekolah di hari pertama hahaha, candaku dalam hati.

 

Aku memarkirkan mobilku di basement hotel. Kuraih handphoneku untuk mengabari bule. “Aku udah di parkiran hotel, bule” Chatku padanya. Tak lama kemudian notif whatsappku berbunyi “Ting”. Kubaca “Good luck ya sayang, kasih Bu Christin yang terbaik”. Chatnya diikuti dengan emoji berkedip. Buleku ini sinting juga, ponakannya sendiri ia jual, pikirku.

 

Sebelum berangkat tadi Bule sudah briefing aku. Temannya Bernama Christin. Salah satu yang terkaya di circle social arisan mereka. Seorang Ibu-ibu chindo berusia 58 tahun. Tipe-tipe istri pengusaha yang nurut. Bule ceritakan kalo Bu Christin sudah lama pisah rumah dengan suaminya. Suaminya sudah nikah siri berkali-kali dengan berbagai macam Perempuan muda. Tetapi Bu Christin ini bertahan demi anak-anak dan harta yang mereka bangun bersama. Tetapi Bu Christin ini jarang macam-macam. Tidak seperti teman-temannya yang bergonta-ganti peliharaan brondong. Itulah yang membuat teman-temannya merasa gemas ingin menghadiahkanku di hari ulang tahunnya yang ke-58.

 

Aku keluar dari mobilku menuju lobi basement. Ku-tap kartu akses yang bule berikan pagi tadi, lift ini membawaku naik ke atas ke lantai 18. Pikiranku melamun menebak-nebak seperti apa penampakan Bu Christin. Bule hanya menjelaskan ciri-cirinya sekilas.Hal ini membuatku menjadi semakin deg-degan.

 

Aku sudah sampai tepat di depan kamar hotel yang dimaksud. Walaupun aku memegang kartu akses, aku berusaha sopan memencet bel kamar. “Ting Tong!” beberapa detik kutunggu masih belum dibuka juga. Aku memencetnya sekali lagi “Ting Tong”. Tak lama pintu terbuka. Sesosok Wanita Anggun muncul di balik pintu. Kuperhatikan inchi demi inchi penampakannya. Wanita ini mengenakan handuk kimono, semerbak tercium wangi bunga dari sabun yang ia kenakan. Rambutnya sebahu, kuperhatikan wajahnya yang memiliki garis halus keriput. Senyumnya manis dan yang aku surprise adalah tidak terlihat chindo sama sekali. Walaupun tanpa make up ia masih terlihat cantik.

“Aim ya” sapanya ramah. Aura keibuannya benar-benar kental

 

“Iya tante, salam kenal ya”Aku menjulurkan tanganku untuk berjabatan dengannya. Ia menyambut uluran tanganku dengan hangat. “Sini masuk sayang” ucapnya ramah

 

Aku memasuki ruangan hotel yang cukup luas dengan jendela besar floor to ceiling. Menampilkan pemandangan kota Jakarta di malam hari yang begitu indah. Aku terpana melihat pemandangan itu.

 

“Santai aja ya nak, gak usah sungkan-sungkan, kalo mau minum ambil sendiri, anggap aja kamar sendiri” ujarnya. “Iya tante” ucapku canggung tidak bisa menyembunyikan kegugupanku

 

Bu Christin langsung duduk di tepian ranjangnya. Aku memutuskan untuk duduk di sofa depan ranjangnya. Dengan nada keibuannya, Bu Christin memulai percakapan untuk mencairkan suasana hingga akhirnya aku sudah mulai bisa santai bercerita.

 

Hingga akhirnya kami benar-benar terbuka satu sama lain..

 

Bu Christin menceritakan kisah hidupnya, Bagaimana ia bertemu dengan suaminya. Bagaimana mereka membangun bisnis dan keluarga bersama-sama. Pengkhianatan-pengkhianatan yang dilakukan oleh suaminya hingga sekarang pisah rumah. Anak-anaknya yang sudah berkeluarga dan tinggal di Kanada. Ia begitu terbuka dengan kehidupan pribadinya, membuatku ikut nyaman untuk terbuka membicarakan kehidupanku..

 

Kuceritakan bagaimana aku bisa hingga merantau ke Jakarta, menapaki karir yang susah payah aku bangun hingga sekarang. Tentunya aku tidak menceritakan hubunganku dengan Bule, akan terdengar aneh baginya.

 

Obrolan kami bahkan hingga menyinggung masalah seks. Aku terkesan dengan sikap keibuannya yang bisa membuat kami sama-sama terbuka satu sama lain dalam waktu singkat. Ia lalu bercerita bagaimana teman-temannya memaksanya untuk berada di kamar hotel ini, menerima “hadiah” sebagai tanda kepedulian mereka.

 

“Tante sebenarnya malu dijodoh-jodohkan seperti ini, tante udah lama loh tidak berhubungan dengan lelaki. Temen-temen tante aja yang gemes sendiri” tawanya riang menceritakan kelakuan-kelakuan nyeleneh teman-teman arisannya. “Jujur tante sendiri sudah tidak begitu bernafsu untuk begituan, aim. Maklum sudah umur” katanya tertawa geli. Ucapannya menjadi tantangan bagiku. Aku harus bisa membuatnya takluk mala mini, pikirku.

 

Lama mengobrol asik tentang kehidupan, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 12. Bu Christin terlihat sudah mulai mengantuk “Kita tidur sekarang yuk” ajaknya. Bu Christin melepaskan pelukan batalnya, dan langsung memposisikan diri untuk tidur dengan kimononya. Sigap aku bangkit dari sofaku dan langsung membantunya menyelimuti tubuhnya dengan bed cover hotel yang tebal ini. Spontan aku mencium dahinya “Selamat ulang tahun ya Ibu Cantik dan baik hati” ucapku sembari menatapnya mesra dan tersenyum manis. Ia membalas senyumanku. Aku merebahkan diriku di sampingnya, menghadapkan wajahku tepat di depan wajahnya dan menggenggam tangannya mesra. Kutatap dalam bola matanya “Jadi gak mau dibuka hadiahnya nih tante?” ucapku menggoda. “Tante malu aim, sudah lama tante tidak melakukan yang gitu-gitu” ucapny alirih sambil menatapku dengan penuh keraguan. “Gak usah malu tante, tante diem aja, biar aim yang kerja” ucapku menenangkan. “Tapi dimatiin lampunya ya, tante gak pede..” ucapnya ragu. Aku hanya mengangguk manis menyetujui.

 

Bu Christin lalu melepaskan genggamanku dan meraih saklar di samping tempat tidur. Mematikan lampu dan membiarkan hanya lampu sudut yang menyala. Aku masih bisa melihatnya dengan jelas di dalam keremangan Cahaya kamar hotel ini. Aku lalu membuka kaosku, memamerkan badan coklatku yang berotot. Aku mengusap-ngusap dadaku di hadapannya, terlihat Bu Christin terkesan dengan penampilanku yang bertelanjang dada ini.

 

Lalu aku masuk ke dalam selimut dari bawah “Aim… mau ngapain?” ucapnya panik. Aku memunculkan wajahku dari balik selimut “Sssttt.. tante percaya sama aku ya” ucapku menenangkan. Kulihat mukanya tegang. Aku Kembali masuk ke dalam selimut. Dalam gelap, aku mencari tali kimononya dan menariknya. Dengan tanganku kulebarkan paha Bu Christin lebar-lebar. Bu Christin tidak mengenakan CD di balik kimononya. Dia kayaknya mau tapi emang malu-malu, pikirku. Dalam gelap aku menggunakan jemariku untuk meraba-raba area kewanitaannya. Terasa belahan vaginanya yang masih kering benar-benar halus tanpa bulu. Dia pasti rajin perawatan. Mulai kudekatkan wajahnya ke depan gua gerbanya. Semerbak wangi sabun mandi dan aroma khas kewanitaan menusuk hidungku, membuatku semakin bergairah. Bibirku langsung meraih lapisan terluar vaginanya, lidahku menyapu belahannya membasahi gundukan kewanitaan yang masih kering itu. Kudengar Bu Christin mendesis mengikuti sapuan lidahku tepat di belahan vaginanya “ssshhh..”. Kurasakan kepalaku mulai dipegangnya. Kupermainkan jemari, bibir dan lidahku, mengobok-ngobok liang senggamanya. Kurahakan lidahku masuk lobang kewanitaannya sejauh mungkin, kuselingin dengan cucupan dan jilatan lidahku di klitorisnya. Kudengar desahannya semakin menjadi-jadi.

 

Kulanjutkan permainan lidahku, kurasakan genggaman tangannya di kepalaku semakin menguat, desahannya mulai terdengar tidak teraturr.. “ahhhh.. mmmhhh.. aduhhh.. ahhhhh.. huhuhuuu… emmpphh” suara desahannya mengisi ruangan hotel ini. Kurasakan gapitan kedua pahanya mulai menguat di kepalaku, aku semakin bersemangat memainkan bibir dan lidahku di lobang kewanitaannya. “Cppphh.. cphhh.. cuppphh..” aku mendengar suara cucupanku sendiri di vaginanya. Tiba-tiba.. “ahhh… ahhhhh… huhuhuuuuuu” Bu Christin melenguh panjang diikuti dengan suara mirip tangisan. Tubuhnya bergetar, gelombang kenikmatan menghantamnya berkali-kali hingga akhirnya kedua pahanya lunglai ke samping.

 

Spontan aku langsung keluar dari selimut, menindihnya, menghadapkan wajahku tepat di depan wajahnya. Kuperhatikan matanya yang terpejam dan nafasnya yang tersengal-sengal. Lalu perlahan matanya mulai ia buka, nafasnya mulai lebih teratur. Kusambut dengan senyuman manis “Gimana tante, tante suka?” senyumku menggoda. Terlihat mata Bu Christin berbinar-binar, senyumnya merekah. Lalu ia menganggukan kepalanya. Perlahan kudekatkan wajahku, kuraih bibirnya dengan bibirku, kucium lembut Wanita tua ini. Ia menyambut ciumanku dengan khidmat.

Kami berciuman mesra cukup lama. Kuhentikan ciumanku. Lalu kubuka mata untuk menatapnya. Perlahan Bu Christin membuka matanya dan tersenyum kepadaku. “Siap lanjut tante?” tanyaku pelan. Bu Christin hanya mengangguk lemah tanda persetujuan. Aku langsung menggulingkan badanku ke sampingnya. Lalu kubuka celana jeans dan CDku dan kulempar ke samping tempat tidur. Lalu kubantu Bu Christin untuk melepaskan kimononya. Kami bedua sudah telanjang bulat sempurna.

 

Di bawah selimut, aku langsung menindihkan badanku, kubuka pahanya lebar-lebar, kuletakkan natangku yang sudah tegak sempurna tepat di belahan vaginanya yang sudah basah oleh cairan kewanitaan dan air liurku. Kuarahkan lengannya untuk merangkul leherku. Dada kami beradu, kurasakan payudaranya tidak begitu besar. Wajah kami berhadap-hadapan.

 

“Kok kamu masih bisa tegang sih sama nenek-nenek gini” ucapnya sambil bercanda

 

“Nenek-neneknya cantik dan seksi, bikin aku tidak tahan” ucapku sambil menggerak-gerakan pinggulku agar batang kejantananku menggesek belahan vaginanya. Sontak Bu Christin tertawa “Pinter banget kamu ngerayu nenek-nenek ya”

 

“jadi udah siap belum menikmati hadiah ulang tahunnya sayang?” tanyaku mesra dengan tatapan menggoda

 

“Pelan-pelan ya aim.. tante udah lama gak dimasukkin” ucapnya lirih. Aku mengangguk dengan semangat.

 

Dengan satu tangan kuarahkan batang kejantananku perlahan-lahan untuk melesak masuk menembus gua gerbanya yang sudah lama tidak disarangi batang lelaki. Tanganku satunya lagi kugunakan untuk menahan tubuhku di ats tubuh Wanita tua ini. Kurasakan kepala kontolku mulai masuk ke liang senggamanya, namun tertahan oleh lubang yang menyempit. Kuputar-putar kepala kontolku di pintu lobang kewanitaannya agar otot-ototnya lebih relaks. Kudengar Bu Christin mendesah, tangannya menahan dadaku seperti ketakutan batangku akan melesak memaksa masuk seluruhnya.

 

“tahan ya sayang” ucapku. Aku lalu meludahkan air liurku ke tanganku, dan membalurinya di kepala kontolku untuk memudahkan batangku masuk. Kucoba masukkan lagi batangku, kali ini otot dalam vaginanya sudah mulai relaks. Kurasakan batangku mulai menembus satu bagian di dalam vaginanya hingga akhirnya melesak dan seluruh batangku terbenam. “ahhhh… sempit bangett tante” racauku dengan suara parau dilanda birahi. Kelamin kami sudah beradu sempurna.

 

Aku lalu mengarahkan lengan Bu Christin untuk merangkul leherku lagi. Kubiarkan batangku bersarang di rahimnya. Aku lalu mulai menciumi bibir, dagu dan leher Bu Christin. Kurasakan otot vaginanya mulai relaks mencengkeram batangku. Dalamnya mulai terasa lembab dan licin. Aku bisa memulai genjotanku, gumamku dalam hati.

 

Lalu aku memulai memaju mundurkan pinggulku, kali ini batangku sudah bisa keluar masuk dengan mudah, cengkraman otot-otot vaginanya seperti memijit seluruh batangku. Kulihat Bu Christin mulai mendesah dan tidak fokus, ia memejamkan matanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tanda dilanda kenikmatan. Kumulai memainkan irama genjotanku, kukeluar masukkan pelan lalu kupercepat, kuberi variasi Gerakan memutar. Batangku mengobok-ngobok liang senggamanya, menjelajahi setiap permukaan dinding rahimnya tanpa terlewat sedikitpun. Bu Christin semakin mendesah kelojotan..”ahhh.. ahhhh.. aimmm.. enak bangettt.. aduhhh.. tolongg.. ahhh” desahannya sungguh nyaring ke seluruh ruangan kamar hotel ini.

 

Aku mulai mempercepat hujamanku, kami berdua mendesah seirama, tanpa peduli aka nada yang mendengar. Kurasakan sensasi geli di kepala kontolku, cairan sperma di batangku mencoba melesak keluar..

 

“Ahhhh.. ahhhh.. tantee.. aim mau keluar.. erghhh.. ehhh” Seruku di Tengah desahanku

 

“Di dalem apa di luar.. ahhh.. ahhh” tanyaku

 

Bu Christin tidak menjawab, kulihat dia sibuk mendesah menikmati hujaman batangku bertubi-tubi di liang senggamanya dengan ritme yang cepat ini.

 

Otot penisku sudah tidak dapat menahan bendungan cairan kejantananku, aku tidak bsia berpikir lagi untuk menumpahkan spermaku Dimana.. “arrrhhh… arrgghhh.. arghhhh.. sshhhhh” Cairan spermaku menyembur memenuhi seluruh relung di ruang rahim Bu Christin. Kudekap tubuh Bu Christin erat-erat. Pantatku berkedut berkali-kali seiring semburan cairan kejantananku di lubang kenikmatannya. Aku ambruk di pelukan Bu Christin. Nafas kami tersengal-sengal, dada kami naik turun seirama.

 

“maaf tante aku tadi keluarin di dalem, gak sempet cabut” Ujarku sambil tersengal-sengal

 

“Gak apa-apa, lagian tante kan udah gak subur ini” Senyumnya manis. Aku membalas senyumannya pertanda puas, lalu kucium keningnya lembut. Bu Christin lalu menurunkan rangkulannya, mengelus dadaku yang berkeringat. “kamu emang terbukti Jantan banget, betul kata temen-temen tante hihihi” Tawanya centil. “Jadi puas nih sama hadiahnya? Apa mau nambah lagi?” Godaku sambil memutar-mutarkan pinggulku, batangku yang masih bersarang di liang senggamanya terasa licin, penuh oleh cairan kenikmatan kami. Ia balas dengan tertawa lepas “Tante udah tua, gak kuat, ini aja udah ngos-ngosan” Aku membalasnya dengan kecupan mesra didahinya. “yaudah kita bersih-bersih yuk” ajakku.

 

Segera kucabut batang kejantananku dari liang senggamanya, terlihat lelehan spermaku mengalir keluar dari vaginanya. Lalu kutuntun nenek ini ke kamar mandi. Kami mandi bersama dan saling membersihkan. Setelah selesai mandi aku bersiap akan mengenakan pakaianku Kembali. “Tante mau aku temenin tidur malam ini?” tanyaku. Ia membalasnya dengan anggukan. Kulempar pakaian Kembali, dengan telanjang bulat aku masuk ke bawah selimut. Kulihat Bu Christin akan mengenakan kimono tidurnya. “Kalo mau ditemenin tidur, dilarang pake sehelai benangpun” ujarku dengan nada sok ngambek. “Dasar anak muda, ada-ada aja” tawanya lepas. Ia lalu menyusulku ke bawah selimut. Semalaman aku peluk Bu Christin, mengobrol ngalor ngidul hingga kami berdua terlelap.

 

Keesokan paginya aku terbangun oleh matahari yang sudah terik. Kulihat Bu Christin sudah tidak ada di sampingku. Ia meninggalkan sebuah amplop dan kertas bertuliskan :

 

Aim sayang, terima kasih ya atas hadiahnya semalam. Tante senang sekali bisa kenal kamu. Kita bertemu lagi dalam waktu dekat ya sayang. Save nomor tante ya. Kamu nikmati saja pagi ini di hotel. Maaf tante gak pamit dulu, kamu tadi tidurnya pulas banget. Tante gak tega mau bangunin. Tante buru-buru karena harus ke gereja.

 

08xxxxxxx

Christin

 

Kuintip isi amplopnya berisi lembaran merah cukup tebal. Aku kaget menghitung nominalnya. Lalu kuputuskan melanjutkan tidurku Kembali dan stay beberapa jam lagi untuk menikmati sarapan dan gym di hotel.

 

----

 

“Wah kamu berhasil tuh” Goda Bule begitu aku sampai rumah. “Berhasil apa sih?” tanyaku pura-pura sembari penasaran. “Christin seneng banget sama kamu tadi malam. Katanya kamu hot banget bikin dia bergairah lagi hihihi” Ucapnya manja sambil memelukku. Bule lalu meraih handphonenya dan sibuk bercerita menunjukkan chat-chat ramai Ibu-ibu di grup whatsappnya. Ia juga mengirimiku bukti transfer atas “kerja keras”ku semalam. Ternyata amplop yang Bu Christin berikan bukan bayaranku, melainkan tips. Wah lumayan nih buat nambah-nambah ganti mobil, gumamku dalam hati.

 

“Jangan lupa pajak buat bule ya” ucapnya manja sambil menjulurkan tangannya. “Oke, aku bayar pajaknya pake kenti ya” aku beranjak dari sofa lalu menggendong bule ke dalam kamar. Bule tertawa manja. Kuhabiskan malam itu membalas kelakuan bule yang menjualku dengan hujaman batangku.

Posting Komentar